Takbiratul Ikram

Manakala memulai shalat, Rasulullah Saw bertakbiratul ihram usai niat, karena hadits, “Sesungguhnya amal tergantung niat…”

Dari Ibnu Umar RA, ia bercerita: “Ketika berdiri untuk shalat, Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya hingga lurus dengan kedua bahunya lalu beliau bertakbir…”. (HR. Muslim [1:292 no.22])

Dari Abu Hurairah RA, ucapnya: “Tatkala berdiri akan shalat, Rasulullah Saw bertakbir ketika berdiri…”. (HR. Muslim [1:296 no.23])

Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah Saw membuka shalat dengan takbir dan membaca al-hamdulillahrabbit ‘alamm…” (HR. Muslim [1:357) Dari Ali RA, ia mengatakan, “Rasulullah Saw telah bersabda:

“Pembuka shalat adalah wudhu, yang mengharamkannya (dari pekerjaan lain) adalah takbir (takbiratul ihram) sedang yang menghalalkannya (menqerjakan selain pekerjaan shalat) adalah salam”. (HR. At-Tirmidzi [1:8 no.3] dari hadits Ali dan [2:3 no.238] dari hadits Abu Sa’id)

Al-Hafizh An-Nawawi dalam Syarah Al-Muhadzdzab [3:289] berkata, “Wudhu dinamakan dengan pembuka shalat karena hadats itu penghalang shalat seperti gembok bagi pintu, menjadi penghalang masuk. la butuh pembuka. Ucapan Nabi ‘Yang mengharamkannya adalah takbir”. A-Azhari berkata bahwa asal tahrim (pengharaman) adalah mencegah. Setiap yang dicegah/dilarang adalah haram. Takbir disebut dengan yang mengharamkan shalat karena dengannya orang yang shalat tercegah (dlharamkan) dari bicara, makan dan sejenisnya.

Beberapa Masalah:

PERTAMA.

Lafazh takbir adalah Allahu Akbar, dan harus dengan bahasa Arab karena Rasulullah Saw berpesan dalam hadits shahih, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Tidak ada riwayat bahwa beliau mengucapkannya dengan selain bahasa Arab. Yang tidak bisa bahasa Arab wajib mempelajarinya dan non Arab wajib mempelajari bacaan dan dzikir-dzikir shalat yang wajib. Jika tidak mampu, boleh menerjemahkannya sampai bisa mengucapkan dengan bahasa Arab, kecuali Al-Qur’an. la tidak boleh terjemahannya. la harus diganti dengan dzikir lain, bertasbih, bertakbir, bertahmid dan bertahlil (ucapan La llaha lllallah).

Dari Ibnu Abi Awfa bahwa seorang pria meminta kepada Rasulullah untuk diajari suatu (bacaan) pengganti Al-Qur’an. Rasulullah Saw bertutur, “Bacalah:

Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya [5:114 no.1808], isnadnya hasan)

KEDUA

Makmum wajib mengucap takbiratul ihram setelah takbiratul ihramnya imam. Jika makmum mengucap takbiratul ihram berbarengan dengan imam atau saat imam masih mengucapkannya, maka shalat si makmum tidak sah. karena hal itu sama dengan ia bermakmum kepada orang yang belum shalat. Sebab saat itu imam belum selesai takbiratul ihram, berarti belum masuk ke pekerjaan shalat. Hukum ini hanya berlaku untuk takbiratul ihram. Untuk bagian- bagian atau rukun shalat yang lain (selain takbiratul ihram), jika seorang makmum mengerjakannya berbarengan dengan Imam, sah shalatnya, dan tidak sah kalau mendahului imam.

KETIGA

Wajib bagi yang mengerjakan shalat untuk bertakbiratul ihram, karena Nabi Saw menegur dalam hadits tentang “al-musi’ shalatahu” (yanq buruk dalam shalatnya), “Jika engkau berdiri akan shalat, maka bertakbirlah…”1

Kepadanya Rasulullah mensyaratkan takbiratul ihram saat berdiri akan shalat. jadi, orang yang bertakbiratul ihram tidak sambil berdiri, maka tidak sah shalatnya. Ini mungkin menimbulkan pertanyaan pada sebagian orang dengan mengatakan, “Apakah ada orang yang bertakbiratul Ihram tidak sambil berdiri?” Saya jawab, “Mungkin. Tidak sedikit orang yang tergesa-gesa mengejar shalat jama’ah sehingga ia bertakbiratul ihram sambil membungkuk untuk rukuk dan dengannya mereka mengira mendapatkan satu raka’at. Cara seperti ini bukannya mendapatkan satu raka’at, malah shalatnya tidak sah”.

Dengan demikian, maka disunnahkan bagi orang yang akan mengikuti shalat jama’ah, mendatanginya dengan pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa, berdasarkan hadits: “Jika shalat didirikan, makajanganlah kamu mendatanginya dengan tergesa- gesa. Datangilah dengan jalan biasa. Yang sempat kamu dapatkan, lakukanlah, vang tidak sempat, sempurnakanlah”. (HR. Al-Bukhari [2:390] dalam Fathul Bari, Muslim [1:420])

Juga wajib baginya berdiri sejenak untuk menghadirkan niat lalu bertakbiratul ihram dalam keadaan berdiri. Kemudian pindah kepada rukun yang dikerjakan imam. Jika ia sempat rukuk bersama imam dan thuma’ninah walau hanya sejenak, maka terhitung untuknya satu raka’at. Kalau imam sudah i’tidal (bangun dari ruku) dan sang makmum tidak sempat thuma’ninah, berarti tidak terhitung satu rukuk untuknya”.

Dikutip oleh: M. Luqman Firmansyah, dari Buku Sifat Shalat Nabi SAW halaman 34-35, karangan Syeikh Hasan Ali As-Saqqaf Al-Qurasyi Al-Hasyimi, Penerbit: Islamuna Press.

Dapatkan bukunya di http://toko-buku-albarokah.blogspot.com/2009/08/buku-sifat-shalat-nabi-saw.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s