Hadits-Hadits Seputar Ramadhan

Berikut ini hadits-hadits pilihan tentang Ramadhan untuk menemani puasa Anda di bulan mulia ini. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Bulan Ramadhan
Allah SWT berfirman:

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila bulan Ramadhah telah datang, maka pintu-pintu langit (surga) dibuka sedangkan pintu-pintu Jahannam (neraka) ditutup dan setan-setan dibelenggu.”[1]

Memanfaatkan Bulan Ramadhan

Suatu hari, Nabi SAW menaiki mimbar lalu mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau menjawab, “Tadi Jibril Alaihissalam mendatangiku lalu memberitahuku bahwa barangsiapa mendapati bulan Ramadhan, akan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni maka ia akan masuk neraka. Jibril berkata: Ucapkanlah amin. Lalu aku pun mengucapkan amin.”[2]

Keutamaan Puasa

“Puasa adalah tameng, maka hendaklah (orang yang berpuasa) tidak berbuat kotor dan tidak pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa’ sebanyak dua kali. Demi (Allah) yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak misik, karena dia meninggalkan makanan, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali kebaikan yang serupa.”[3]

Puasa Menghapus Dosa

“Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan rasa pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.”[4]

Pahala Berjihad di Bulan Ramadhan

“Jika seorang hamba berpuasa satu hari sewaktu berperang di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkannya –dengan puasa itu- dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.”[5]

Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa

“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar Rayyan, yang pada hari kiamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka, “Mana orang-orang yang berpuasa itu?” lalu mereka pun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut.”[6]

Puasa dari Dusta dan Perbuatan Buruk

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minunmya.”[7]

Kegembiraan Orang yang Berpuasa

“Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yang ia rasakan, yaitu pada saat berbuka puasa dan pada saat berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira karena puasanya itu.”[8]

Larangan Mendahului Puasa Ramadhan

“Janganlah seseorang di antara kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari (sebelumnya) kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melakukannya.”[9]

Niat Sejak Malam Hari

Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” [10] Menurut riwayat Daruquthni: “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak meniatkan puasa wajib semenjak malam.”

Keutamaan Sahur

“Bersahurlah, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada berkah.”[11]

Keutamaan Sahur dengan Tujuh Kurma Madinah

“Barangsiapa sarapan setiap hari dengan tujuh kurma Ajwah, ia tak akan dicelakai oleh racun ataupun sihir pada hari itu.”[12]

Keutamaan Mengakhirkan Sahur

“Senantiasa umatku berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”[13]

Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau pergi untuk melakanakan shalat.” Anas bin Malik bertanya: “Berapa jarak antara adzan (Shubuh) dan sahur?”. Zaid menjawab: “Sepanjang bacaan lima puluh ayat.”[14]

Keutamaan Menyegerakan Berbuka

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” [15]

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits Qudsi): “Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka.”[16]

Keutamaan Berbuka Dengan Kurma atau Air

“Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.”[17]

Bolehkah Istri Berpuasa Sewaktu Suaminya di Rumah?

“Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan berpuasa di saat suaminya di rumah, kecuali dengan seizinnya, kecuali pada bulan Ramadhan.”[18]

Hukum Mencium dan Memeluk Istri Ketika Sedang Berpuasa

‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan memeluk (isteri-isteri beliau) ketika beliau sedang berpuasa. Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian.[19]

Katanya lagi: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium salah satu isteri beliau ketika beliau sedang berpuasa.” Kemudian ia tersenyum.[20]

Zainab putri Ummu Salamah bercerita dari ibunya radliallahu ‘anhuma:

Ketika aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu selimut tiba-tiba aku mengalami haid (menstruasi), lalu aku pergi secara diam-diam dan mengambil pakaian khusus haidku. Beliau bertanya: “Ada apa denganmu, apakah kamu mengalami haid?” Aku jawab: “Ya.” Lalu aku kembali masuk kedalam selimut bersama beliau.”

Ummu Salamah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pula mandi bersama dari satu wadah air. Dan beliau juga menciumnya padahal beliau sedang berpuasa.”[21]

Belum Mandi Junub Hingga Waktu Subuh

Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Aku bersaksi tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau dahulu pernah junub di pagi hari setelah berhubungan, bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya.” Ummu Salamah juga pernah berkata seperti itu.[22]

Hukum Makan atau Minum karena Lupa

“Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.”[23]

Menurut riwayat Hakim: “Barangsiapa yang berbuka pada saat puasa Ramadhan karena lupa, maka tak ada qadha (tidak wajib mengganti) dan tak ada kafarat (hukuman) baginya.” Hadits Shahih.

Hukum Muntah Ketika Sedang Berpuasa

“Barangsiapa yang terpaksa muntah (tidak sengaja) maka ia tak wajib mengqadha, akan tetapi barangsiapa sengaja muntah maka ia wajib mengqadha.”[24]

Hukum Puasa Ketika Bepergia (Safar)

Hamzah bin ‘Amru Al Aslamiy berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah saya boleh berpuasa saat bepergian?” Dia adalah orang yang banyak berpuasa. Lalu Beliau menjawab: “Jika kamu mau berpuasalah dan jika kamu mau berbukalah.”[25]

Dalam riwayat lain, “(Berbuka) itu hanyalah keringanan dari Allah, barangsiapa mengambilnya maka itu baik, tapi orang yang lebih suka berpuasa, maka itu tidak mengapa.”

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarganya.”[26]

Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan.”

Aisyah radliallahu ‘anha, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian isteri-isteri beliau beriktikaf setelah kepergian beliau.[27]

Lailatul Qadar

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr)

Kapan Lailatul Qadar?

Tujuh Malam Terakhir

Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma berkata bahwa ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh malam terakhir. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku juga bermimpi seperti yang kalian mimpikan tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir.”[28]

Malam-Malam Ganjil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan.” [29]

Abu Sa’id Al Khudriy berkata: “Kami pernah beriktikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian beliau keluar pada sepuluh malam terakhir lalu memberikan khutbah kepada kami dan berkata: “Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu, barangsiapa yang sudah beriktikaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka pulanglah.”

Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud di atas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi beliau.” [30]

Malam ke-25, 27 dan 29

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari kaum muslimin yang saling bertengkar. Akhirnya beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan bertengkar sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan).”[31]

Malam ke-27

Muawiyah bin Abu Sufyan radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang Lailatul Qadar: “Malam dua puluh tujuh.” [32]

Keutamaan Shalat di Malam Lailatul Qadar

“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar, dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.”[33]

Doa Malam Lailatul Qadar

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha bertanya: “Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu bahwa suatu malam adalah Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut?” Beliau menjawab: “Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku).”[34]

Larangan Puasa di Hari Raya

Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu dia berkata: “Inilah dua hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang puasa padanya, yaitu pada hari saat kalian berbuka dari puasa kalian (Iedul Fithri) dan hari lainnya adalah hari ketika kalian memakan hewan qurban kalian (Iedul Adhha).”[35]

Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berpuasa pada hari Raya Iedul Fithri dan Iedul Adhha.”[36]

Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Telah dilarang berpuasa pada hari Raya Iedul Fithri dan Iedul ‘Adha.”[37]

Keutamaan Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti orang yang berpuasa selamanya.” [38]

Demikianlah hadits-hadits pilihan tentang bulan suci Ramadhan. Semoga Ramadhan kita kali ini semakin bermakna dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Damaskus, 25 July 2011

footnote:

[1] HR. Bukhari dan Muslim.

[2] HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Thabrani, Al Baihaqi dalam Syuabul Iman, Ibnu Syahin dalam Fadhail Syahr Ramadhan

[3] HR. Bukhari. Kalimat pertama “Puasa adalah tameng” juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

[4] HR. Bukhari dan Muslim.

[5] HR. Bukhari dan Muslim.

[6] HR. Bukhari dan Muslim.

[7] HR. Bukhari.

[8] HR. Bukhari dan Muslim.

[9] HR. Bukhari dan Muslim.

[10] HR. Imam Lima. Tirmidzi dan Nasa’i lebih cenderung menilainya hadits mauquf. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya shahih secara marfu’.

[11] HR. Bukhari dan Muslim

[12] HR. Bukhari dan Muslim

[13] HR. Ahmad

[14] HR. Bukhari

[15] HR. Bukhari dan Muslim

[16] HR. Tirmidzi

[17] HR. Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim.

[18] HR. Bukhari dan Muslim, kecuali lafal “kecuali pada bulan Ramadhan” disebutkan dalam riwayat Abu Daud.

[19] HR. Bukhari dan Muslim

[20] HR. Bukhari

[21] HR. Bukhari

[22] HR. Bukhari dan Muslim.

[23] HR. Bukhari dan Muslim.

[24] HR. Imam Lima. Dinilai cacat oleh Ahmad dan dinilai kuat oleh Daraquthni.

[25] HR. Bukhari dan Muslim.

[26] HR. Bukhari.

[27] HR. Bukhari.

[28] HR. Bukhari

[29] HR. Bukhari

[30] HR. Bukhari

[31] HR. Bukhari

[32] HR. Abu Daud. Menurut pendapat yang kuat ia adalah mauquf.

[33] HR. Bukhari dan Muslim

[34] HR. Imam Lima selain Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Hakim.

[35] HR. Bukhari

[36] HR. Bukhari

[37] HR. Muslim

[38] HR. Muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s